Unsur Fiksi sebagai Pembangun Isi Cerita dalam Cerpen “Ah, Jakarta” Karya Ahmad Tohari
Unsur Fiksi sebagai Pembangun Isi Cerita dalam Cerpen “Ah, Jakarta” Karya Ahmad Tohari
![]() |
| sumber: https://images.app.goo.gl/RVxNqonjqGDQC1ep9 |
Ahmad Tohari
Judul cerpen : Ah, Jakarta
Penulis : Ahmad Tohari
Tahun terbit : 1989
Cerpen menjadi salah satu jenis karya sastra yang dihasilkan dari ungkapan segala pemikiran atau perasaan seseorang dalam bentuk karangan pendek. Cerpen merupakan sebuah karangan pendek berbentuk prosa yang menceritakan tentang kehidupan tokoh dengan berbagai peristiwa, permasalahan, dan pengalaman. Menurut Halimah (2023: 30) cerpen merupakan cerita rekaan yang menyuguhkan bangunan struktur dengan sangat padat, terpusat pada satu peristiwa tertentu dalam kurun waktu yang singkat, serta menyuguhkan tindakan, pemikiran, dan dialog karakter-karakter tokoh pada satu situasi tertentu dengan kekhasan bahasa yang dapat membangkitkan imajinasi pembacanya. Cerpen mengandung nilai-nilai kehidupan karena itu kebanyakan cerpen mengisahkan tentang kejadian dalam kehidupan.
Cerpen banyak diminati oleh berbagai kalangan sebab isinya cenderung lebih pendek, padat, dan mudah dipahami oleh pembaca. Salah satu contoh cerpen yaitu cerpen karya Ahmad Tohari berjudul “Ah, Jakarta”. Cerpen “Ah, Jakarta” karya Ahmad Tohari menjadi cerpen yang realistis dengan kehidupan. Cerpen “Ah, Jakarta” mengisahkan tentang dua orang sahabat yang satu merupakan perampok dan menjadi buronan polisi. Dalam cerita tersebut menggambarkan tentang kehidupan di kota Jakarta yang dialami oleh seorang perampok untuk tetap bertahan hidup. Cerpen ini menyajikan banyak nilai kehidupan yang dapat dijadikan sebuah pelajaran bagi setiap orang. Dalam cerpen ini, terkandung unsur fiksi sebagai unsur pembangun dalam cerita. Stanton (dalam Wicaksono, 2017: 91) membagi unsur-unsur fiksi menjadi tiga unsur utama yaitu fakta, sarana cerita, dan tema. Dalam hal ini akan dijabarkan lebih lanjut mengenai unsur fiksi dalam cerpen “Ah, Jakarta” yaitu, sebagai berikut:
A. Fakta Cerita
Fakta cerita sebagai unsur fiksi yang secara faktual dapat dibayangkan peristiwa dan eksistensinya. Fakta cerita meliputi tokoh dan penokohan, alur, dan latar. Menurut Samsuddin (2019: 121) fakta-fakta cerita merupakan unsur yang pertama tampak dengan jelas di depan mata pembaca pada saat membaca karya fiksi. Fakta cerita menjadi struktur faktual yang setiap detailnya diorganisasikan dengan baik oleh penulis. Adapun fakta cerita dalam cerpen “Ah, Jakarta” sebagai berikut:
1. Tokoh dan penokohan
Tokoh mengarah pada pelaku dalam cerita. Sedangkan penokohan mengarah pada karakter tokoh dalam cerita. Jadi, tokoh merupakan seseorang yang memerankan cerita dan penokohan merupakan penggambaran tokoh dalam cerita. Tokoh dan penokohan dalam cerpen “Ah, Jakarta” yaitu:
A. Aku
Tokoh utama dalam cerpen “Ah, Jakarta” adalah aku. Tokoh “Aku’ disini diceritakan sebagai teman karib seorang perampok yang memiliki sifat baik hati dan peduli. Sifat tersebut digambarkan melalui kutipan “Di hadapanku kini duduk seorang karib yang pasti buronan. Aku langsung teringat konsekuensi hukum bagi orang yang menyimpan oknum yang sedang dicari polisi. Tapi detik itu juga kuputuskan, menerima karibku seperti biasa”. Dari kutipan tersebut terlihat bahwa tokoh “Aku” tetap menerima teman karibnya sebagai buronan walaupun mengetahui konsekuensi yang akan ditanggungnya.
B. Teman karib tokoh Aku
Teman karib tokoh Aku menjadi tokoh kedua. Dalam cerita, teman karib dari tokoh Aku ini tidak disebutkan namanya dan diceritakan dengan sebutan “dia”. Teman karib tokoh Aku memiliki sifat licik, suka mencuri, dan peduli. Sifat tersebut digambarkan melalui kutipan “Dan karibku yang buronan itu licik. Dulu dia selalu menggigit belutnya agar aku tidak bisa merebutnya lagi” dan melalui kutipan “Kelompoknya memulai beroperasi dengan pengintaian yang bermula dari toko elektronik. Bila ada orang membeli TV warna atau video dia akan dibuntuti sampai rumahnya”. Sifat peduli dibuktikan dengan kutipan “Dia yang kusewa mobilnya. Mobil majikannya maksudku. Kasihan, dia harus menghadapi tuntutan ganti rugi. Kasihan dia. Soalnya dia langganan dan temanku yang baik”.
C. Istri tokoh Aku
Istri tokoh Aku menjadi tokoh ketiga dalam cerita. Istri tokoh Aku digambarkan memiliki sifat yang tidak mau menerima segala risiko. Sifat tersebut digambarkan dengan kutipan “Nah, awas kamu. Aku tidak ingin ada bangkai manusia yang pernah menginap di rumah ini. Kau tahu orang-orang macam dia yang kini mayatnya tercampak di mana-mana?”
D. Polisi
Tokoh polisi menjadi tokoh pendukung dalam cerita. Tokoh polisi digambarkan memiliki sifat yang ceroboh. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan “Pekerjaan calo. Kemudian kusebut nama ngawur untukku. Alamat, kampung anu. Untung polisi tidak tanya KTP, suatu kecerobohan yang memalukan”.
2. Alur
Alur merupakan rangkaian peristiwa yang saling berhubungan secara runtut dalam sebuah cerita. Alur dalam cerpen “Ah, Jakarta” menggunakan alur maju yang digambarkan secara bertahap yaitu pertama, masa pengenalan. Dimulai dari pertemuan antara dua tokoh yaitu tokoh Aku dan tokoh teman karib dari tokoh Aku yang sudah lama tidak bertemu. Kedua, timbul konflik. Setelah masa pengenalan selesai, selanjutnya muncul konflik yang bermula dari teman karib tokoh aku yang ternyata merupakan seorang buronan. Diceritakan bahwa teman karib tokoh aku merupakan seorang perampok dan sedang menjadi buronan. Tahap ketiga yaitu konflik memuncak. Istri tokoh Aku mengetahui bahwa teman suaminya ternyata seorang buronan. Tokoh Aku tetap menerima teman karibnya untuk tinggal dirumahnya, namun istri dari tokoh Aku merasa keberatan jika seorang buronan tinggal dirumahnya. Tahap keempat yaitu klimaks. Diceritakan bahwa teman karibnya kemudian pergi meninggalkan rumah tokoh Aku. Mengetahui hal itu, tokoh Aku hanya berharap semoga teman karibnya baik-baik saja. Namun, justru sebaliknya, tokoh Aku menemukan teman karibnya meninggal mengapung di kelokan kali Serayu bawah jalan raya. Tahap terakhir yaitu penyelesaian. Akhir cerita, setelah mayat teman karibnya ditemukan, tidak ada orang lain yang mau membantu untuk menguburkannya dan tokoh Aku yang menguburkan teman karibnya sendiri.
3. Latar
Latar merupakan gambaran situasi atau lingkungan yang melingkupi setiap peristiwa dalam cerita. Latar menjadi unsur fiksi yang berkaitan dengan tempat, waktu, dan suasana. Adapun latar dalam cerpen “Ah, Jakarta” meliputi:
Latar tempat:
· Rumah
“Kedatangannya pada suatu malam di rumahku memang mengejutkan”
· Pasar
“Di depan pasar kecil di kotaku yang kecil ada terminal colt”
· Kali Serayu
“Ketika kutinggalkan tepian kali serayu yang berjarak dua puluh kilo dari rumahku itu, ternyata ada beberapa orang yang menonton"
Latar waktu:
· Malam
“Malam itu dia datang”
· Pagi
“Pagi-pagi setelah subuh kubuka pintu kamar karibku”
Latar suasana:
· Menyenangkan
“Entahlah, sejak saat itu aku jadi senang pergi ke pasar”
· Kebingungan
“Lama aku berdiri bingung tak tahu harus berbuat apa”
· Menyedihkan
“Sekali pun aku sama sekali tidak cengeng, namun terasa air mataku meleleh”
B. Sarana Cerita
Sarana cerita meliputi judul, sudut pandang, gaya bahasa, dan nada. Sarana cerita merupakan teknik yang digunakan pengarang dalam memilih dan menyusun detail-detail cerita menjadi pola bermakna. Adapun sarana cerita dalam cerpen “Ah, Jakarta” sebagai berikut:
1. Judul
Judul menjadi bagian yang dapat meningkatkan minat pembaca. Judul merupakan bagian yang pertama kali akan dilihat oleh pembaca sebagai sisi kemenarikan dari sebuah cerita. Pada cerpen karya Ahmad Tohari memiliki judul bernama “Ah, Jakarta” yang mengambil gambaran tentang kehidupan kota Jakarta. Ahmad Tohari mengambil judul tersebut sebab memiliki makna tentang kerasnya kehidupan di kota Jakarta.
2. Sudut pandang
Sudut pandang dapat dikatakan sebagai posisi penulis dalam menyampaikan sebuah cerita. Pada cerpen berjudul “Ah, Jakarta” karya Ahmad Tohari menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu “Aku” sebagai peran utama. Hal tersebut dibuktikan melalui kutipan “Sudah lama aku tidak melihatnya”.
3. Gaya bahasa
Gaya bahasa dapat memengaruhi terbentuknya suasana dalam cerita. Gaya bahasa merupakan gaya pengarang dalam membawakan isi cerita dengan bahasa yang khas. Pada cerpen berjudul “Ah, Jakarta” karya Ahmad Tohari menggunakan gaya bahasa sederhana dan familiar. Ahmad Tohari tidak menggunakan gaya bahasa yang rumit, setiap peristiwa disampaikan dengan gaya bahasa yang sederhana seperti dalam kehidupan sehari-hari.
C. Tema
Tema menjadi inti atau isi pokok dalam cerita. Tema merupakan pokok pikiran atau gagasan utama yang disampaikan pengarang dalam cerita. Tema dalam cerpen berjudul “Ah, Jakarta” karya Ahmad Tohari yaitu tentang kerasnya kehidupan di kota Jakarta yang dialami oleh seorang perampok. Cerpen “Ah, Jakarta” menggambarkan tentang seorang perampok yang tetap bertahan hidup di tengah kerasnya kota Jakarta.
D. Kelebihan
Kelebihan dari cerpen “Ah, Jakarta” yaitu pengarang mengemas setiap peristiwa dengan begitu sederhana dan mudah dipahami. Bahasa yang digunakan juga sederhana dan familiar. Pembaca mampu dibuat terkesan dengan isi cerita dari cerpen tersebut. Cerita yang dikemas dengan sederhana ini memiliki makna yang begitu dalam sehingga pembaca dapat mempelajari arti kehidupan yang sesungguhnya melalui cerpen ini.
DAFTAR PUSTAKA
Halimah. 2023. Pembelajaran Cerpen dengan Strategi Dimensi Literasi. Yogyakarta: Deepublish Digital.
Samsuddin. 2019. Buku Ajar Pembelajaran Kritik Sastra. Yogyakarta: Deepublish.
Wicaksono, Andri. 2017. Pengkajian Prosa Fiksi. Yogyakarta: Garudhawaca.

Realita kehidupan di Jakarta tak seindah ekspetasi
BalasHapus