Antara Kebahagiaan dan Kesedihan pada Puisi “Sajak Ditahun Baru” dan “Hujan di Kampungku” Karya Andy Sri Wahyudi

 

 

sumber: pinterest

 

Antologi puisi karya Andy Sri Wahyudi berisikan kumpulan puisi yang membahas banyak persoalan sosial, romantis, kelucuan, politik, dan kehidupan keseharian yang dialami oleh penulis. Andy Sri Wahyudi merupakan penyair asal Yogyakarta yang bekerja di sanggar Bengkel Mime Theatre sebagai sutradara, aktor, dan penulis naskah. Melihat latar belakang Andy Sri Wahyudi menentukan setiap kata dalam puisi yang dituangkannya dengan perasaan, kreatifitas, dan pemikirannya. Kumpulan puisi Andy Sri Wahyudi dikemas dengan bahasa yang begitu sederhana. Dari bahasa yang sederhana tersebut mampu menarik perhatian pembacanya sebab pembaca diajak untuk turut merasakan setiap bait puisi yang dituliskannya. Kumpulan puisi Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola juga mampu menggelitik pembacanya. Dari judulnya “Ibu, Aku Minta Dibelikan Mushola” saja sudah terkesan sangat menggelitik. Terlebih lagi jika membaca keseluruhan puisinya yang begitu banyak kelucuan di dalamnya dan pembaca akan memiliki kesan serta pandangan tersendiri terhadap puisi karya Andy Sri Wahyudi.

Kumpulan puisi karya Andy Sri Wahyudi juga banyak menceritakan kehidupan sehari-hari yang dibalut dengan rasa kesedihan dan kebahagiaan. Andy Sri Wahyudi mampu menafsirkan aspek kehidupan yang tidak hanya dialami oleh dirinya saja, namun juga dialami oleh orang lain dan dituangkan dalam bentuk puisi dengan penuh makna. Kehidupan seperti roda yang terus berjalan dengan diiringi berjuta pikiran dan perasaan. Kesedihan pasti akan dialami dan kebahagiaan pasti akan muncul setelah kesedihan. Begitulah jalannya kehidupan yang sederhana jika dimaknai dengan ketulusan. Hal tersebut berhubungan dengan makna yang terkandung dalam kumpulan puisi karya Andy Sri Wahyudi yaitu puisi berjudul “Sajak Ditahun Baru”.

Sajak Ditahun Baru

(mereka yang giat bekerja ketika dini pagi)

: Arief Kriying

Semalam mereka tidak ada di hotel-hotel

Suara tawa mereka tak terdengar di kafe-kafe

Mereka juga tidak menghadiri pesta-pesta

Bahkan mereka tidak berteriak-teriak di jalanan

Karena semalam mereka setia

 

Adalah mereka yang layak mewarna pagi

pertama

Dengan goresan warna matahari di dadanya

Karena semalam mereka tetap setia bekerja

Khusyuk mempersiapkan doa sehari-hari

Menjadi diri sendiri.

 

Imogiri Jogja, 010103

dari makam para raja

 

Di bawah judul Sajak Ditahun Baru bertuliskan mereka yang giat bekerja ketika dini pagi dan terdapat nama Arief Kriying yang diartikan bahwa puisi tersebut ditunjukkan kepada seseorang yang giat bekerja ketika dini pagi yaitu Arief Kriying. Puisi Sajak Ditahun Baru terdiri dari dua bait yang menggambarkan tentang orang-orang yang memilih untuk tetap bekerja ketika menjelang pergantian tahun. Sesuai dengan judulnya “Sajak Ditahun Baru’ yang menghubungkan makna puisi ini dengan tahun baru. Pada bait pertama yang berbunyi, sebagai berikut:

Semalam mereka tidak ada di hotel-hotel

Suara tawa mereka tak terdengar di kafe-kafe

Mereka juga tidak menghadiri pesta-pesta

Bahkan mereka tidak berteriak-teriak di jalanan

Karena semalam mereka setia

 

Mereka dalam puisi tersebut menunjukkan tentang orang-orang yang bekerja keras. Ketika pergantian tahun, mereka memilih untuk tetap bekerja tanpa merayakan tahun baru. Menjelang malam tahun baru, orang-orang akan merayakan tahun baru di hotel-hotel, di kafe-kafe, maupun menghadiri ke pesta-pesta. Menuju pergantian tahun, orang-orang akan berteriak-teriak di jalanan untuk mengucapkan “Selamat Tahun Baru”. Namun, berbanding terbalik dengan makna pada bait pertama dalam puisi “Sajak Ditahun Baru” ini yang bermakna bahwa mereka dalam puisi tersebut justru tidak merayakan pergantian tahun dan lebih memilih untuk tetap bekerja ketika dini pagi. Disambung dengan baris terakhir “Karena semalam mereka setia” yang menunjukkan orang-orang tersebut lebih setia kepada pekerjaannya daripada sekedar untuk menghilangkan rasa lelahnya dengan merayakan tahun baru. Dilanjutkan pada bait kedua yang berbunyi, sebagai berikut:

Adalah mereka yang layak mewarna pagi

pertama

Dengan goresan warna matahari di dadanya

Karena semalam mereka tetap setia bekerja

Khusyuk mempersiapkan doa sehari-hari

Menjadi diri sendiri.

 

Dapat dimaknai bahwa mereka yang telah giat bekerja layak mendapatkan hasil atas kerja kerasnya sendiri. Pada baris pertama “Adalah mereka yang layak mewarna pagi” dapat diartikan bahwa mereka layak untuk mendapatkan kebahagiaannya sebab telah bekerja hingga tidak mengenal waktu. Pada baris keempat yang berbunyi “Karena semalam mereka tetap setia bekerja” dan pada baris kelima “Khusyuk mempersiapkan doa sehari-hari” menggambarkan bahwa mereka bekerja untuk memenuhi segala keinginan lewat doa-doa yang diucapkannya setiap harinya agar keinginannya itu terkabul melalui hasil kerja kerasnya. Mereka lebih memilih setia untuk bekerja dibandingkan untuk bersenang-senang sebab terdapat kebutuhan maupun keinginan yang lebih mereka butuhkan dan inginkan dalam kehidupannya. Pada baris terakhir “Menjadi diri sendiri” diartikan bahwa terdapat keinginan untuk menjadi sukses melalui kerja keras dengan berbekal doa-doa yang diucapkan setiap harinya.

Puisi Sajak Ditahun Baru dikemas dengan bahasa yang sederhana, namun maknanya yang begitu mendalam memberikan arti bahwa kehidupan tidak hanya tentang bersenang-senang. Akan tetapi, kehidupan juga tentang bekerja keras dalam memenuhi keinginan diri sendiri untuk menjadi orang yang sukses. Dibalik kerja keras yang tergambarkan dalam puisi tersebut terselipkan rasa kesedihan yang ingin juga merayakan tahun baru dengan penuh kebahagiaan. Namun, mereka tidak memilih kebahagiaan itu sebab kebahagiaan lain telah mereka dapatkan atas hasil dari kerja kerasnya. Puisi ini mengajarkan untuk selalu giat bekerja hingga mendapatkan kebahagiaan atas hasil dari kerja keras sendiri. Puisi tersebut sangat sesuai dengan kehidupan yang mungkin pernah orang-orang alami. Mereka yang memilih untuk tetap bekerja mungkin memiliki kebutuhan yang lebih berarti daripada sekedar untuk merayakan pergantian baru.

Terdapat puisi lain dari karya Andy Sri Wahyudi yang berhubungan dengan rasa kesedihan dan kebahagiaan yaitu puisi berjudul “Hujan di Kampungku”. Puisi ini memberikan arti bahwa sesuatu yang terjadi dalam kehidupan merupakan hal yang tidak terduga dan tidak terencana bisa jadi memberikan kesedihan atau kebahagiaan bahkan bisa memberikan keduanya. Seperti halnya hujan yang tiba-tiba datang tanpa memberikan sebuah pertanda pada puisi “Hujan di Kampungku”, sebagai berikut:

Hujan di Kampungku

Hujan musim kemarau jatuh tanpa rencana.

Matahari masih bersinar dan langitnya cerah

Dua anak kampung berlarian di jalanan, hujan-

hujanan

Anak-anak yang lain berteriak-teriak riang

Mereka bermain di atas tumpukan daun

mangga yang masih baru

Hujan telah reda tapi keresahan masih

menghantui ayah anak-anak itu

Di kepala-kepala di sela-sela kerja di detak-

detak jantung di setiap langkah-langkah

Saat itu sulit kubedakan antara keringat dan air

hujan

2005

Pada baris pertama bermakna bahwa ketika musim kemarau, hujan justru turun tanpa rencana. Musim kemarau merupakan musim kering yang ditandai dengan cuaca panas ekstrim dan curah hujan yang rendah. Jarang sekali hujan turun di musim kemarau. Namun, dalam puisi tersebut digambarkan hujan turun di musim kemarau tanpa adanya rencana atau pertanda akan datangnya hujan karena pada baris kedua berbunyi “Matahari masih bersinar dan langitnya cerah” yang berarti cuaca sedang cerah. Pada baris berikutnya bermakna bahwa terdapat dua anak kampung yang senang ketika hujan turun hingga berlarian di jalanan sambil hujan-hujanan diikuti dengan anak-anak lain yang ikut senang hingga berteriak-teriak riang. Kebahagiaan terlihat dalam puisi tersebut, bahwa hujan menjadi sumber kebahagiaan bagi anak-anak. Hujan yang turun ketika musim kemarau menjadi berkah yang membawa kebahagiaan bagi anak-anak. Hal ini menggambarkan ketika musim kemarau dengan cuaca yang begitu panas membuat sulit untuk mendapatkan air dan tanpa rencana tiba-tiba hujan turun yang membawa kebahagiaan bagi anak-anak.

Pada baris selanjutnya yaitu “Hujan telah reda tapi keresahan masih menghantui ayah anak-anak itu” bermakna ketika hujan telah reda justru mendatangkan keresahan pada ayah anak-anak tersebut. Hal tersebut mencerminkan ada berbagai pikiran dan tanggung jawab yang mungkin membebani pikiran ayah anak-anak itu. Dapat diartikan setelah hujan reda, ayah anak-anak itu menjadi gelisah karena kebahagiaan yang ada pada anak-anaknya telah berhenti dan ayahnya akan melihat kesedihan anak-anaknya lagi. Dilanjutkan pada baris yang berbunyi “Di kepala-kepala di sela-sela kerja di detak-detak jantung di setiap langkah-langkah” menunjukkan pikiran ayah dari anak-anak itu yang setiap saat memikirkan untuk membahagiakan anaknya. Pada baris terakhir berbunyi “Saat itu sulit kubedakan antara keringat dan air hujan” dapat dimaknai bahwa sosok “aku” dalam puisi tersebut sulit untuk membedakan antara usaha keras dan perasaan kebingungan dalam menghadapi tantangan hidup.

Puisi berjudul “Hujan di Kampungku” memiliki makna yang sangat unik. Ketika dibaca memang sedikit membingungkan untuk menghubungkan makna hujan, kemarau, kebahagiaan, dan kegelisahan. Namun, setelah dimaknai menunjukkan bahwa puisi tersebut menceritakan tentang keadaan musim kemarau di kampung yang menjadi sebuah tantangan bagi sosok ayah atau seorang pencari nafkah yang mungkin kebingungan untuk menghadapi situasi di musim kemarau. Kampung identik dengan banyaknya tanaman-tanaman dan ketika musim kemarau akan kesulitan untuk mendapatkan air. Sosok ayah dalam puisi tersebut dapat digambarkan sebagai petani yang sedang kesulitan air untuk menyirami tanaman-tanamannya sebab tanaman menjadi sumber kehidupan bagi keluarganya. Hujan yang turun di musim kemarau menjadi kebahagiaan bagi anak dan juga ayahnya. Hujan akan menyirami tanaman-tanaman agar cepat tumbuh subur dan segera panen. Namun, ketika hujan sudah reda, sosok ayah dalam puisi tersebut menjadi gelisah sebab hujan tidak lagi menyirami tanaman-tanamannya dan ayah dari anak-anak itu menjadi kebingungan untuk membahagiakan anaknya serta memberikan sumber kehidupan bagi keluarganya.

 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: "Usai"

"Potret Kekosongan Hidup Dalam Rumah Kaliurang"

Keindahan Puncak Sosok