Analisis Tokoh Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh Dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer

 

 

sumber: https://images.app.goo.gl/YpgVW5wtyemXYPYH7 

 

 

Analisis Tokoh Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh Dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer

 

Karya sastra merupakan hasil karya cipta pengarang berdasarkan atas pengalaman maupun kenyataan yang terjadi dalam kehidupan dengan disertai imajinasi dari pengarang. Karya sastra tidak semata-mata hanya mengandung seni keindahan, namun nilai-nilai yang mencerminkan gambaran kehidupan juga terkandung di dalam karya sastra. Karya sastra tercipta atas hasil imajinasi pengarang yang didasarkan atas pengamatannya dengan lingkungan sekitarnya. Salah satu jenis karya sastra yaitu novel, yang merupakan suatu karangan berupa prosa fiksi. Novel mengandung berbagai fenomena kehidupan yang diambil berdasarkan latar belakang kehidupan sosial dan diungkapkan melalui tokoh-tokoh yang diceritakan dalam novel tersebut. Novel memiliki peranan yang penting dalam memberikan sebuah pandangan untuk menyikapi kehidupan. Novel mampu menghadirkan cerita dari berbagai persoalan yang rumit dengan melibatkan perkembangan karakter didalamnya yang berhubungan satu sama lain. Novel sebagai media yang mencerminkan suatu kenyataan dengan menghubungkan berbagai aspek sosial kehidupan secara realistis dan detail.  

Salah satu seorang penulis yang berhasil menciptakan berbagai karya dengan berlandaskan pada aspek kehidupan secara realistis yakni Pramoedya Ananta Toer dengan karyanya yang berjudul Bumi Manusia. Novel Bumi Manusia menjadi novel yang sangat unik sebab mampu menarik pembacanya melalui ceritanya yang melegenda yaitu perjuangan yang dilakukan oleh pribumi secara terhormat dalam melawan bangsa Eropa. Novel Bumi Manusia memberikan latar kehidupan dan kebudayaan yang sangat kompleks, dalam hal ini diceritakan mengenai perbedaan sosial antara manusia pribumi dengan bangsa Eropa, penindasan kepada kaum perempuan atas adanya kultur dan aspek sosial, dan kekejaman bangsa Eropa terhadap hukum yang diberlakukan. Dalam cerita ini juga mengisahkan kisah cinta antara tokoh Minke dengan Annelies. Tokoh Minke sangat berjuang dalam mendapatkan cinta dari Annelies. Minke juga memperjuangkan haknya sebagai pribumi dalam melawan hukum bangsa Eropa. Novel Bumi Manusia juga menceritakan mengenai pandangan pribumi dan bangsa Eropa terhadap Nyai Ontosoroh sebagai seorang gundik. Banyak konflik yang terjadi dalam novel Bumi Manusia yang dikemas dengan sangat baik sehingga mampu menarik pembacanya untuk ikut dalam imajinasi penulis novel tersebut.

Novel Bumi Manusia menghadirkan begitu banyak tokoh yang mempunyai hubungan satu sama lain. Tokoh yang selalu ditonjolkan dalam novel Bumi Manusia yaitu tokoh Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh. Tokoh utama dalam novel Bumi Manusia adalah Minke yang selalu dihadirkan dari awal hingga akhir cerita. Minke digambarkan sebagai sosok pribumi cerdas yang memiliki jiwa pemikiran seperti bangsa Eropa. Tokoh Minke selalu dihadapkan dengan berbagai konflik yang harus dihadapinya. Tokoh Minke memiliki karakter yang berubah-ubah, hal tersebut disesuaikan atas pemikiran dan pandangan Minke terhadap orang yang memengaruhinya. Minke sebagai tokoh utama juga selalu mengubah karakter pada setiap tokoh lain karena beberapa faktor yang memengaruhinya itu mampu mengubah pandangan setiap tokoh. Dalam cerita Bumi Manusia, Minke dihadirkan sebagai seorang tokoh yang memiliki pemikiran luas. Apapun yang dilihatnya dihubungkan dengan pandangan yang tidak semata-mata didasarkan pada anggapan orang lain saja. Tokoh Minke sebagai tokoh yang memiliki kepribadian Jawa dan Eropa. Pramoedya Ananta Toer menggambarkan sosok Minke begitu detail atas latar kehidupan sosial dan budayanya.

Tokoh Annelies dan Nyai Ontosoroh menjadi tokoh sentral dalam novel Bumi Manusia. Annelies memiliki karakter yang bertolak belakang dengan Minke. Annelies digambarkan sebagai sosok wanita cantik keturunan bangsa Eropa yang tidak pandai bergaul dan hanya mengurusi perkebunan milik keluarganya. Berbeda dengan tokoh Nyai Ontosoroh yang merupakan Ibu dari Annelies, digambarkan sebagai sosok wanita pribumi yang dipandang buruk oleh orang lain. Tokoh Annelies dan Nyai Ontosoroh dihadirkan dalam cerita Bumi Manusia sebagai tokoh yang membawa perubahan pada tokoh Minke. Tentunya hal itu didasari atas motivasi yang dimiliki ketiga tokoh tersebut. Setiap tokoh pasti mempunyai karakter yang berbeda-beda, hal itu didasari atas motivasi yang dimilikinya yang mendorong adanya perubahan karakter atau pandangan setiap tokoh dalam mencapai apa yang mereka inginkan. Dalam hal ini akan dibahas lebih lanjut mengenai karakter tokoh Minke, Annelies, dan Nyai Ontosoroh serta motivasi yang mendasari karakter ketiga tokoh tersebut. Fokus analisis ini mengarah pada karakter dan motivasi ketiga tokoh tersebut.


a.     Karakter dan motivasi tokoh Minke

Minke merupakan seorang lelaki pribumi yang berdarah priyayi. Minke sebagai seorang pelajar yang berjuang untuk keluar dari kejawaannya menjadi manusia merdeka. Namun, Minke justru telah memiliki jiwa sebagai bangsa Eropa sehingga pemikiran-pemikiran mengenai bangsa Eropa telah mengakar di jiwanya. Pandangan-pandangan pribuminya telah dipengaruhi oleh bangsa Eropa. Minke memiliki pemikiran yang modern sehingga tokoh Minke dihadirkan memiliki pengetahuan mengenai peradaban modern. Dalam cerita Bumi Manusia, Minke memperjuangkan segala hak asasinya sebagai pribumi. Minke juga menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dalam cerita ini. Minke memiliki karakter yang pintar, berperikemanusiaan, pemberani, penuh perjuangan, sopan, taat terhadap orang tua, dan ikhlas.

Salah satu karakter Minke yaitu pintar, terlihat dalam cerita bahwa Minke merupakan siswa dari sekolah favorit yaitu HBS. Selama pendidikannya tersebut, Minke mampu berbahasa Belanda dengan sangat baik. Kepintarannya tersebut juga terlihat dari karya-karya yang dipublikasikannya di media masa saat itu. Minke sangat pandai menulis dan memiliki nama pena yakni Max Tollenaar. Tulisan-tulisan karya Minke selalu dimuat di majalah koran dan diketahui oleh orang-orang. Minke memiliki karakter berperikemanusiaan, yang digambarkan dalam cerita saat Minke melihat penindasan bangsa Eropa terhadap kaum pribumi. Hal tersebut yang membuat Minke selalu menjunjung rasa kemanusiaan dengan melakukan berbagai macam cara agar nilai kemanusiaan tidak hilang. Diceritakan bahwa terdapat tokoh bernama Nyai Ontosoroh sebagai gundik yang diperlakukan tidak adil oleh bangsa Eropa. Minke melakukan segala cara dengan membuat tulisan-tulisan mengenai Nyai Ontosoroh dan berbagai penindasan yang dilakukan bangsa Eropa terhadap pribumi yang dimuat di majalah koran. Minke sebagai sosok penghubung bangsa Eropa dengan pribumi yang selalu memperjuangkan penyetaraan derajat manusia dengan menumbuhkan kesadaran untuk selalu menjunjung nilai kemanusiaan.

Tulisan-tulisan yang dimuat di majalah koran sebagai bentuk perjuangan Minke dalam membela kaum pribumi. Dari situlah Minke digambarkan memiliki karakter yang pemberani dan penuh perjuangan. Minke sangat berani menentang ketidakadilan yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Dalam cerita Bumi Manusia juga terlihat sosok Minke yang penuh perjuangan dalam membela haknya. Ketika pengadilan memutuskan bahwa pernikahan Minke dan Annelies tidak sah dimata hukum Eropa dan hanya sah dimata agama, membuat Minke berjuang mati-matian membela haknya sebagai seorang pribumi yang harus diakui keberadaannya. Minke juga memiliki karakter yang sopan dan taat kepada orang tuanya. Karakter tersebut terlihat saat Minke dibawa ke rumah orang tuanya dan dicambuk oleh ayahnya, namun Minke tetap bersikap sopan walaupun perlakuan ayahnya begitu kasar kepadanya. Minke juga tetap mentaati perintah ayahnya untuk menjadi penerjemah diacara pengangkatan ayahnya sebagai bupati.

Minke memiliki karakter sebagai sosok yang ikhlas menerima segalanya yang bukan hak miliknya. Ketika Annelies harus dibawa kembali ke negara Eropa membuat diri Minke sangat hancur menerima keadaan yang begitu sulit untuk melepas Annelies. Hukum memutuskan bahwa Annelies harus dikembalikan ke negara Eropa, walaupun sudah menikah dengan Minke, namun hukum dari Eropa menganggap bahwa Annelies masih seorang gadis yang belum menikah sehingga harus dibawa pulang ke tempat asalnya yakni Eropa. Minke telah memperjuangkan segalanya agar Annelies tidak dikembalikan ke Eropa, namun perjuangan itu tidak membuahkan hasil. Annelies tetap dibawa ke Eropa dan Minke tetap ikhlas menerima keadaan itu.

Tokoh Minke dihadirkan dengan memiliki motivasi yang mendasari terbentuknya karakter Minke. Dalam hal ini terdapat dua motivasi yaitu motivasi dasar dan motivasi khusus. Tokoh Minke memiliki motivasi dasar yaitu adanya kesenjangan dan kekejaman antara pribumi dengan kulit putih atau bangsa Eropa. Motivasi ini menjadikan Minke memiliki karakter yang memperjuangkan hak-haknya sebagai pribumi dan melawan penindasan yang dilakukan oleh bangsa Eropa. Motivasi khusus tokoh Minke yaitu pandangan terhadap Nyai Ontosoroh seorang pribumi yang bisa lebih unggul dari orang Eropa. Motivasi khusus tersebut menghadirkan sosok Minke yang memiliki pemikiran luas sehingga pandangannya terhadap orang lain dapat berubah-ubah. Kedua motivasi tersebut memiliki hubungan satu sama lain. Adanya kesenjangan antara pribumi dan orang Eropa membuat Minke beranggapan bahwa bangsa Eropa telah banyak menindas kaum pribumi terlebih lagi sosok Nyai Ontosoroh, seorang perempuan yang juga ditindas oleh bangsa Eropa padahal sosok Nyai Ontosoroh yang buruk dimata orang lain memiliki kecerdasan yang tidak kalah hebatnya dengan orang Eropa , sehingga tokoh Minke dihadirkan untuk memperjuangkan keadilan yang berperikemanusiaan dan menyetarakan derajat antara pribumi dengan orang Eropa.

b.     Karakter dan motivasi tokoh Annelies

Annelies merupakan gadis cantik keturunan Eropa. Ia terlahir dari darah Eropa dan Pribumi. Ayahnya adalah keturunan Eropa dan Ibunya adalah pribumi. Tokoh Annelies digambarkan sebagai sosok wanita yang lemah lembut. Annelies memiliki karakter yang penyayang, ramah, rajin, kekanak-kanakan, cengeng, manja, polos, dan berwibawa. Karakter penyayang digambarkan ketika Annelies lebih memilih Ibunya daripada Ayahnya yang merupakan keturunan Eropa. Annelies memilih ingin menjadi pribumi seperti Ibunya sehingga Annelies memiliki karakter penyayang kepada Ibunya. Annelies juga memiliki karakter yang ramah, diceritakan ketika Annelies mengurus perkebunan milik keluarganya, ia tidak segan-segan menyapa para pekerja di perkebunan miliknya tanpa membedakan status sosial. Annelies juga sosok yang rajin, ia selalu membantu Ibunya mengurus perkebunan. Annelies sangat bertanggung jawab dalam mengurus perkebunan sehingga segala urusan perkebunan sangat tertata rapi di tangan Annelies.

Annelies memiliki karakter yang kekanak-kanakan, diceritakan ketika Annelies ditinggal oleh Minke dalam beberapa hari membuat Annelies menjadi sakit. Hanya kedatangan Minke yang mampu menyembuhkan Annelies. Minke menemani Annelies setelah beberapa hari kepergiannya. Annelies selalu meminta untuk diceritakan oleh Minke, jika tidak diceritakan ia tidak mau tidur. Annelies juga tidak bisa ditinggal pergi terlalu lama oleh Minke sebab sebagian hidup Annelies adalah Minke, orang yang ia sayangi. Kepergian Minke selalu membuat Annelies menangis. Annelies tidak bisa terlepas dari Minke. Karakter cengeng terlihat saat Annelies selalu menangis ketika ditinggal pergi oleh Minke beberapa hari. Annelies juga memiliki karakter manja, terlihat dalam cerita bahwa tokoh Minke harus selalu mendampingi Annelies ketika sakit. Annelies juga tidak mau makan, jika Minke tidak ada disampingnya dan menyuapinya.

Annelies juga memiliki karakter yang polos, diceritakan saat pertemuannya dengan Minke. Annelies sebagai gadis yang sangat cantik mampu menggoyahkan hati Minke. Minke sangat terpesona dengan kecantikkan yang Annelies miliki. Hal itu yang membuat Minke memuji Annelies dengan kata cantik. Mendengar Minke memuji kecantikkannya membuat Annelies terkejut kemudian berlari kepada Ibunya dan mengadu bahwa Annelies dipuji cantik. Terlihat bahwa karakter Annelies yang sangat polos hingga tidak sadar bahwa dirinya sangat cantik. Karakter Annelies yang lain yakni berwibawa, diceritakan bahwa Annelies selalu membantu mengurus perkebunan milik keluarganya sehingga Annelies sangat dihormati oleh para pekerja sebab memiliki jiwa kepemimpinan yang mengarahkan semua pekerjaan di perkebunan. Adanya jiwa kepemimpinan membuat Annelies dihormati sehingga dihadirkan memiliki karakter yang berwibawa.

Tokoh Annelies tentunya dihadirkan dengan memiliki motivasi yang mendasari terbentuknya karakter pada diri Annelies. Tokoh Annelies memiliki motivasi dasar dan motivasi khusus. Motivasi dasar Annelies yaitu ingin menjadi manusia pribumi seperti Ibunya yaitu Nyai Ontosoroh. Adanya motivasi tersebut membuat tokoh Annelies dihadirkan sebagai sosok keturunan Eropa yang ingin diakui sebagai manusia pribumi. Dihadirkannya tokoh Annelies dalam cerita atas dasar motivasi tersebut sehingga tokoh Annelies sangat mencintai manusia pribumi. Motivasi khusus Annelies yaitu keinginannya bersatu dengan Minke. Tokoh Annelies dihadirkan atas motivasi khusus tersebut yang membuat tokoh Annelies sangat mencintai Minke walaupun memiliki identitas pribumi. Motivasi dasar dan khusus tokoh Annelies memiliki hubungan satu sama lain. Annelies memiliki keinginan untuk menikah dengan Minke sebab Annelies ingin diakui sebagai manusia pribumi seperti Ibunya.

c.      Karakter dan motivasi tokoh Nyai Ontosoroh

Tokoh Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai wanita pribumi. Nyai Ontosoroh merupakan seorang gundik atau istri tidak sah dari suaminya. Tokoh Nyai Ontosoroh dihadirkan oleh pengarang dengan memiliki karakter yang berbeda dengan tokoh perempuan lain dalam cerita. Nyai Ontosoroh sebagai seorang gundik yang selalu ditindas oleh bangsa Eropa. Namun, penindasan tersebut membuat Nyai Ontosoroh tidak takut pada bangsa Eropa sehingga tokoh Nyai Ontosoroh dihadirkan sebagai tokoh wanita yang pemberani. Nyai Ontosoroh memiliki karakter yang percaya diri, berani, berpengetahuan luas, mandiri, berwibawa, ramah, dan selalu mengutamakan anaknya. Karakter Nyai Ontosoroh yang percaya diri, terlihat dalam cerita saat Nyai Ontosoroh dikenal sebagai seorang gundik namun ia tetap percaya diri dan tidak menganggap pandangan buruk tersebut. Nyai Ontosoroh berpendirian teguh dengan kepercayaan yang ia punya sehingga Nyai Ontosoroh dihadirkan sebagai sosok wanita yang tangguh walaupun dipandang buruk oleh orang-orang.

Nyai Ontosoroh juga memiliki karakter yang berani serta berpengetahuan luas. Diceritakan saat Nyai Ontosoroh ditindas haknya oleh bangsa Eropa bahwa anaknya Annelies dianggap bukanlah anak Nyai Ontosoroh dimata hukum Eropa, sebab Nyai Ontosoroh hanyalah seorang gundik yang melakukan perkawinan tidak sah. Nyai Ontosoroh tetap berani melawan bangsa Eropa tanpa memikirkan pandangan orang lain terhadap statusnya demi mempertahankan hak-haknya sebagai manusia pribumi yang ingin diakui dan dihargai keberadaannya. Nyai Ontosoroh juga berpengetahuan luas walaupun tidak bersekolah, namun ia seperti seorang terpelajar. Saat sudah menikah dengan suaminya bernama Herman Mellema, ia diajarkan belajar bahasa Belanda oleh suaminya. Segala hal pengetahuan yang dimiliki suaminya itu diajarkan juga pada Nyai Ontosoroh sehingga Nyai Ontosoroh memiliki kecerdasan yang tidak kalah dengan bangsa Eropa. Kecerdasan Nyai Ontosoroh juga terlihat ketika pertemuannya dengan Minke. Minke yang awalnya berpandangan buruk terhadap seorang gundik, akhirnya pandangan buruk itu runtuh ketika bertemu dengan Nyai Ontosoroh yang memiliki pengetahuan luas serta mampu memberikan pengaruh kepada karakter Minke. Minke mengakui bahwa Nyai Ontosoroh yang seorang gundik pun terlihat seperti seorang terpelajar walaupun tidak bersekolah.

Karakter Nyai Ontosoroh yang mandiri, berwibawa, dan ramah, diceritakan saat suaminya sudah tidak peduli dan tidak pulang ke rumah lagi, kemudian Nyai Ontosoroh memutuskan untuk tetap mempertahankan perkebunannya dengan mengurus perkebunanya sendiri tanpa bantuan dari suaminya. Nyai Ontosoroh tidak lagi mengandalkan bantuan suaminya, hanya berlandaskan segala pengetahuan yang ia miliki untuk menjalankan perkebunan yang begitu luas. Nyai Ontosoroh juga sosok yang berwibawa, diceritakan saat Nyai Ontosoroh memimpin perkebunannya yang membuat dirinya menjadi dihormati sebab kewibawaannya itu mampu membuat dirinya dipandang hormat seperti seorang terpelajar. Karakter ramah Nyai Ontosoroh juga terlihat ketika ia bertemu dengan para pekerjanya dan bertemu dengan Minke. Nyai Ontosoroh sangat ramah dalam menyambut Minke begitu juga dalam menyapa para pekerjanya. Nyai Ontosoroh juga memiliki karakter yang selalu mengutamakan anaknya. Diceritakan saat Annelies sakit dan sangat membutuhkan kehadiran Minke kemudian Nyai Ontosoroh langsung menyuruh Minke untuk cepat kembali ke Wonokromo. Annelies sangat mencintai Minke, kecintaanya itu diketahui oleh Nyai Ontosoroh. Demi kebahagiaan anaknya itu, Nyai Ontosoroh memutuskan untuk menyetujui Annelies menikah dengan Minke sebab yang terpenting hanyalah kebahagiaan anaknya.

Tokoh Nyai Ontosoroh dihadirkan memiliki motivasi yang membentuk karakter Nyai Ontosoroh dalam cerita. Tokoh Nyai Ontosoroh memiliki motivasi dasar dan motivasi khusus. Motivasi dasar Nyai Ontosoroh yaitu dendam kepada ayahnya. Nyai Ontosoroh dijadikan sebagai gundik dan dijual kepada orang Eropa oleh ayahnya. Hal itu yang membuat Nyai Ontosoroh memiliki dendam kepada ayahnya. Motivasi khusus Nyai Ontosoroh yaitu ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat daripada orangtuanya. Motivasi dasar dan khusus Nyai Ontosoroh berhubungan satu sama lain. Nyai Ontosoroh yang dijual oleh ayahnya sebagai seorang gundik menyebabkan dirinya ingin lebih hebat dari orangtuanya. Nyai Ontosoroh mempelajari banyak hal agar menjadi wanita yang cerdas dan tidak dipandang buruk hanya karena dirinya sebagai seorang gundik. Adanya motivasi tersebut membuat tokoh Nyai Ontosoroh dihadirkan sebagai wanita yang pemberani dengan memiliki kecerdasan.

Dengan demikian, novel Bumi Manusia memberikan gambaran mengenai kekejaman bangsa Eropa terhadap kaum pribumi dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang memiliki karakter berbeda-beda. Semua tokoh mengalami konflik yang harus dihadapinya. Tokoh Minke dihadirkan sebagai seorang lelaki pribumi yang memiliki karakter penuh perjuangan dalam menghadapi segala masalahnya dan memperjuangkan kesenjangan antara manusia pribumi dengan bangsa Eropa. Tokoh Annelies dihadirkan sebagai sosok wanita cantik keturunan Eropa yang ingin diakui sebagai manusia pribumi. Tokoh Nyai Ontosoroh dihadirkan sebagai tokoh yang memiliki keberanian besar dalam melawan bangsa Eropa dan memiliki kecerdasan seperti pemikiran bangsa Eropa walaupun bukan seorang yang terpelajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Komentar

  1. menarik banget, jadi pengen baca novel lengkapnya

    BalasHapus
  2. menarik sekali bisa menjadi referensi untuk tugas

    BalasHapus
  3. Wih informatif banget, jadi tau ternyata tiap tokoh di novel ini punya motif yang beda bedaa

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: "Usai"

"Potret Kekosongan Hidup Dalam Rumah Kaliurang"

Keindahan Puncak Sosok