Analisis Puisi Karawang Bekasi Karya Chairil Anwar
Karawang Bekasi
karya Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
A. Tema:
Puisi tersebut bertema tentang perjuangan pahlawan yang telah gugur
B. Diksi:
Pilihan kata yang dipakai terkesan sederhana namun menyiratkan banyak makna, lebih menekankan pilihan kata yang biasa dipakai dalam bahasa seharihari atau ragam lisan. Dan menggunakan pilihan kata yang sangat jelas serta lugas penuh dengan ketegasan.
C. Pencitraan:
1. Pencitraan pendengaran terdapat pada kalimat “Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak”
2. Pencitraan penglihatan terdapat pada kalimat “Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi”
3. Pencitraan kesedihan terdapat pada kalimta “Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang-tulang diliputi debu”
D. Gaya Bahasa:
Menggunakan majas yaitu :
1. Majas metonimia, seperti yang ada dalam kalimat “Kami cuma tulangtulang berserakan”.
2. Majas metafora yaitu pada kalimat “Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan atau tidak untuk apa-apa”.
3. Majas personifikasi yaitu pada kalimat “Kami sekarang mayat, Berikan kami arti”.
4. Majas repetisi yaitu pada kalimat “Menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir”
E. Persajakan:
Persajakan dalam puisi Karawang Bekasi menggunakan rima yang sangat beragam. Pada bait pertama bersajak (a-a-a-a) dengan persamaan bunyi di suku-suku kata akhir yaitu huruf (i). Pada bait kedua bersajak (ab-aa). Pada bait ketiga bersajak (a-a). Pada bait keempat bersajak (b-a-b).
F. Tipografi:
Terdiri atas sembilan bait. Bait paling sedikit berjumlah dua baris dan paling banyak berjumlah lima baris.
G. Amanat:
Puisi Karawang Bekasi berisi amanat untuk selalu mengenang jasa para pahlawan dan memberikan apresiasi kepada para pahlawan tentang sebuah arti dengan tetap mempertahankan apa yang telah diperjuangkan.
bisa buat referensi tugas analisis puisi nih
BalasHapusWaw bagus sekali!
BalasHapuspuisinya chairil anwar emang ga pernah gagal
BalasHapus