Teori Pementasan Drama/Teater

 

sumber gambar: pinterest



TEORI PEMENTASAN DRAMA/TEATER 

            Drama menjadi salah satu genre karya sastra yang menggambarkan tentang kehidupan manusia dengan berbagai persoalannya. Istilah drama berasal dari bahasa Yunani yakni dromai yang memiliki arti “perbuatan, tindakan, atau aksi”. Drama merupakan sebuah cerita yang dipentaskan. Cerita tersebut dapat berupa dari persoalan yang muncul dikehidupan sehari-hari sehingga drama identik dengan kisah kehidupan. Drama sebagai seni sastra dapat terlihat melalui naskah drama yang dituliskan oleh pengarang. Drama merupakan bentuk karya sastra yang didalamnya mengungkapkan sebuah cerita melalui dialog para tokohnya (Surmaryanto, 2009: 1). Sejalan dengan hal itu Diana (2020: 102) menyatakan bahwa drama merupakan penciptaan kembali kehidupan nyata atau menurut istilah Aristoteles adalah peniruan gerak yang memanfaatkan unsur-unsur aktivitas nyata. Drama bersifat sementara sebagai karya sastra dikarenakan drama yang ditulis bertujuan untuk dipentaskan. Drama memiliki ciri khas tersendiri yaitu bahasa yang digunakan dan penyampaian amanatnya. Drama lebih menonjolkan percakapan dan gerak para pemain yang akan dipertunjukkan sehingga pemaparan bahasa yang digunakan berupa pemakaian petunjuk lakuan yang menggambarkan suasana dan dialog para tokoh.

            Drama sering disebut juga dengan teater. Teater berasal dari bahasa Yunani yakni theatron yang berarti takjub melihat atau memandang. Istilah teater juga berarti sebagai gedung pertunjukkan. Pada umumnya, beberapa orang menyebut bahwa drama merupakan teater dan begitupun sebaliknya teater merupakan drama. Teater mempunyai arti yang lebih luas yakni menyangkut proses kegiatan yang terjadi di dalam gedung sebelum dilakukan pertunjukkan sampai terciptanya hasil karya seni dalam suatu wujud yang disajikan atau dipentaskan dan ditonton oleh masyarakat (Nuryanto, 2014: 1). Penyebutan drama maupun teater hanyalah sebagai istilah penyebutan yang sesuai dengan kehendak masing-masing.

                Menurut Wiyanto (2002: 7) drama memiliki beberapa jenis sebagai berikut: 

1. Berdasarkan Penyajian Lakon Dilihat berdasarkan penyajian lakon, drama dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu: 

a. Tragedi 

Tragedi merupakan sebuah drama yang dipenuhi dengan kesedihan. Dalam tragedi, pelaku utama dari awal hingga akhir pertunjukkan akan selalu gagal dalam memperjuangkan nasib buruk yang dimilikinya. Hingga pada akhir cerita menimbulkan kedukaan yang mendalam sebab maut menjemput tokoh utama sehingga penonton akan dibuat seolah-olah menanggung derita yang dialami pelaku utama. 

b. Komedi 

Komedi merupakan drama penggeli hati yang dipenuhi dengan kelucuan sehingga menimbulkan tawa para penontonnya. Kata-kata yang dipilih dalam komedi membangkitkan kelucuan yang dapat mengandung sebuah sindiran bahkan kritikan kepada anggota masyarakat tertentu. Hal tersebut yang menjadikan komedi mengambil bahan dari kejadian atau persoalan dalam masyarakat. 

c. Tragedikomedi 

Tragedikomedi merupakan perpaduan antara drama tragedi dengan komedi. Tragedikomedi berisi tentang kesedihan tetapi juga terdapat hal-hal yang menggembirakan dan menggelikan hati sehingga sedih dan gembira akan silih berganti. 

d. Opera 

Opera merupakan sebuah drama yang penggunaan dialognya dinyanyikan dengan diiringi musik. Opera lebih mengutamakan nyanyian dan musik sedangkan lakonnya hanya sebagai sarana. 

e. Melodrama 

Melodrama yaitu drama yang dialognya diucapkan dengan iringan melodi atau musik. Dalam mengucapkannya disesuaikan dengan musik pengiringnya. Pengungkapan perasaanya diwujudkan melalui ekspresi wajah maupun gerak tubuh yang diiringi musik. 

f. Farce 

Farce merupakan drama yang menyurapai dagelan namun tidak sepenuhnya seperti dagelan. Farce memiliki cerita yang berpola komedi. Farce akan menonjolkan kelucuan yang mengundang gelak tawa dari para penontonnya sehingga penonton akan merasa senang. 

g. Tablo 

Tablo merupakan drama yang mengutamakan unsur gerak. Dalam hal ini, para pemain tidak mengucapkan sebuah dialog namun hanya melakukan gerakan-gerakan saja. Tablo lebih menonjolkan jenis kekuatan akting para pemainnya. Hal tersebut dikarenakan jalan cerita dalam tablo dapat diketahui melalui gerakan saja sehingga bunyi musik hanya memperkuat kesan gerakan yang dilakukan pemain. 

h. Sendratari 

Sendratari yaitu perpaduan antara seni drama dengan seni tari. Dalam sendratari, rangkaian peristiwanya diwujdukan melalui bentuk tari yang diiringi musik namun tidak ada dialog. Tetapi, terkadang terdapat bantuan dari narasi singkat yang bertujuan agar penonton mengetahui peristiwa yang sedang dipentaskan. Sendratari lebih mengutamakan unsur tari daripada ceritanya.

2. Berdasarkan Sarana Dilihat berdasarkan sarana yang digunakan, drama dapat dibedakan menjadi beberapa jenis yaitu: 

a. Drama Panggung 

Drama panggung dimainkan oleh para aktor di panggung pertunjukkan. Penonton akan berada disekitar panggung dan menikmati secara langsung dalam melihat perbuatan para aktor dan mendengarkan dialog.

b. Drama Radio 

Drama radio hanya bisa didengarkan oleh para penikmantnya saja melalui radio yang disiarkan secara langsung dan dapat pula direkam dahulu kemudian disiarkan pada waktu yang dikehendaki. 

c. Drama Televisi 

Drama televisi dapat didengar maupun dilihat. Drama televisi hampir sama dengan drama panggung hanya saja drama televisi tidak dapat diraba secara langsung. 

d. Drama Film 

Drama film seperti halnya dengan drama televisi. Drama film menggunakan layar lebar yang biasanya dipertunjukkan melalui bioskop. 

e. Drama Wayang 

Drama wayang digambarkan dengan sebuah wayang sebagai tokoh yang dimainkan oleh dalang. 

f. Drama Boneka 

Drama boneka hampir sama dengan drama wayang. Drama boneka digambarkan dengan boneka sebagai tokoh yang dimainkan oleh beberapa orang. 

3. Berdasarkan Ada atau Tidaknya Naskah Dilihat berdasarkan ada atau tidaknya naskah, maka drama dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu:

 a. Drama Tradisional 

Drama tradisional merupakan drama yang tidak menggunakan naskah. Jika terdapat naskah hanyalah berupa kerangka cerita dan beberapa catatan yang berkaitan dengan permainan drama. 

b. Drama Modern 

Drama modern merupakan drama yang menggunakan naskah. Naskah tersebut berisi tentang dialog dan perbuatan para pemain yang benar-benar diterapkan. Pemain menghafalkan dialog tersebut dan melakukan gerak seperti yang sudah tertulis pada naskah. 

            Drama sebagai bentuk karya sastra biasanya akan dipentaskan untuk ditujukan kepada para penontonnya. Hal tersebut dikenal dengan pementasan drama. Pementasan drama merupakan sebuah bentuk karya drama yang mencakup dialog antar tokoh untuk ditujukan dalam pementasan teatrikal. Pementasan drama sebagai pengolahan naskah drama oleh sutradara yang bertujuan untuk dipentaskan. Pementasan drama merupakan kesenian yang sangat kompleks dikarenakan seni drama tidak hanya melibatkan banyak seniman tetapi juga mengandung banyak unsur yang saling mendukung dan menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan dari keutuhan pementasan drama (Wiyanto, 2002: 31). Berkaitan dengan hal itu, dalam pementasan drama terdapat unsur-unsur sedikitnya ada sembilan unsur menurut Sumaryanto (2009: 17) sebagai berikut: 

1. Naskah Drama 

Pada pertunjukan drama dimainkan berdasarkan naskah. Naskah drama tidak hanya menonjolkan seni peran namun juga pesan yang disampaikan. Naskah drama dapat diambil dari ide hasil pemikiran penulis namun juga dapat diambil dari naskah orang lain maupun kisah-kisah klasik. Umumnya penulis menafsirkan ulang kisah tersebut sehingga banyak terjadi perubahan baik dalam sudut pandang, tokoh, maupun setingnya. Dalam pementasan drama, hal utama yang dibutuhkan tentunya adalah sebuah naskah drama yang berisi cerita atau lakon. Naskah drama tidak mengisahkan cerita secara langsung tetapi penuturan ceritanya menggunakan dialog para tokoh. Naskah drama mencakup ucapanucapan atau pembicaraan para tokoh yang akan dipentaskan. Dalam naskah drama tentunya tidak hanya berisi dialog saja namun disertai dengan keterangan atau petunjuk seperti gerakan-gerakan yang akan dilakukan pemain, tempat terjadinya peristiwa, benda-benda yang diperlukan pada setiap babak, dan keadaan panggung setiap babak. Naskah drama juga berisi tentang bagaimana dialog akan diucapkan baik dengan suara yang lantang, lemah, atau suara yang berbisik. Naskah drama yang dipilih dan diangkat ke atas pentas pertunjukan haruslah dipilih secara hati-hati sesuai dengan tingkat perkembangan seorang aktor (Mubarock dkk, 2019: 46). 

2. Pemain 

Pemain pada drama mendapatkan pesan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya dalam berakting. Pemain merupakan seseorang yang memeragakan sebuah cerita. Seorang pemain harus dapat benar-benar menguasai dan mampu memerankan watak, tingkah, dan busana yang mendukung perannya sehingga sesuai dengan tokoh yang diperankan. 

3. Sutradara 

Sutradara merupakan seseorang yang menjadi pemimpin dalam pementasan. Sutradara bertanggung jawab atas kesuksesan pementasan drama tentunya sutradara harus membuat perencanaan dan melaksanakannya. Sutradara harus memilih naskah, menentukan pokok-pokok penafsiran naskah, memilih pemain, melatih pemain, dan bekerja dengan staf, serta dapat mengkoordinasikan setiap bagian. Keberhasilan maupun kegagalan dalam pementasan drama bergantung pada arahan sutradaranya. 

4. Tata rias 

Tata rias merupakan cara merias atau mendandani. Orang yang mengerjakan tata rias disebut dengan penata rias yang memiliki tugas untuk merias wajah pemain. Riasan tersebut bertujuan untuk memperkuat karakter yang dimainkan oleh para pemainnya. Tata rias membedakan tampilan wajah seorang pemain yang berperan jahat maupun baik. Penata rias tentunya harus memiliki rasa seni yang tinggi. Hal tersebut dikarenakan agar penata rias mengetahui atas hasil riasannya yang sudah cukup bagus atau belum diterapkan pada karakter tokoh seorang pemain. 

5. Tata Busana 

Tata busana merupakan pengaturan pakaian baik dari segi bahan, model, maupun cara mengenakannya. Tata busana berkaitan erat dengan tata rias guna mengatur dalam menampakkan rupa dan postur tokoh yang diperankan sesuai dengan pakaian dan riasan yang cocok. Penata busana harus merancang pakaian yang sesuai dan mendukung sebuah cerita. 

6. Tata Panggung 

Tata panggung yaitu keadaan panggung yang diperlukan dalam pementasan drama. Panggung menggambarkan tempat, waktu, dan suasana yang terjadi dalam sebuah cerita. Terjadinya perubahan panggung disesuaikan dengan perubahan yang terjadi di naskah cerita. Penata panggung bertugas untuk menuruti apa yang diminta dalam naskah drama. 

7. Tata Lampu 

Tata lampu merupakan pengaturan cahaya di panggung. Pengaturan cahaya di panggung disesuaikan dengan keadaan panggung yang digambarkan. Jika dalam naskah cerita digambarkan pada waktu pagi maka cahaya dibuat seolah masih di pagi hari yang tentunya tidak seterang seperti di siang hari. 

8. Tata Suara 

Tata suara tidak hanya berkaitan dengan pengeras suara (sound system) melainkan juga berkaitan dengan musik pengiring. Musik pengiring diperlukan guna menggambarkan suasana yang terasa lebih menyakinkan dan mantap bagi para penontonya. Dalam iringan musik terdapat hal yang perlu diperhatikan yaitu kekerasan suara yang harus diatur agar tidak menutup dialog yang diucapkan oleh para pemain. 

9. Penonton 

Penonton menjadi bagian penting dalam pementasan drama. Pementasan drama ditujukan untuk penonton sehingga kesuksesan pementasan drama dapat diukur dari banyak maupun sedikitnya penonton. Penonton merupakan orang-orang yang datang untuk melihat sebuah pertunjukan. Penonton drama terdiri dari berbagai macam jika dilihat dari segi motivasinya terdapat penonton peminat, penonton iseng, dan penonton penasaran. 

            Dalam pementasan drama akan dijumpai beberapa istilah dalam drama diantaranya sebagai berikut: 

1. Babak 

Babak adalah bagian dari lakon (cerita) drama. Cerita dalam drama biasanya mengandung beberapa babak. Dalam pementasan, babak satu dengan babak lain diberi batas dengan ditandai turunnya layar atau lampu penerang panggung yang dimatikan sejenak. 

2. Adegan 

Adegan merupakan bagian dari babak. Dalam suatu babak terdapat sejumlah adegan yang diperankan oleh tokoh. Pada sebuah adegan hanya menggambarkan satu suasana yang menjadi bagian dari rangkaian suasana dalam babak. 

3. Prolog 

Prolog merupakan bagian pembuka dalam drama. Prolog berperan besar dalam cerita yang disajikan agar penonton dapat mengikuti cerita tersebut. Prolog berisi tentang sinopsis cerita, perkenalan tokoh dan para pemerannya, serta konflik yang akan terjadi. 

4. Epilog 

Epilog adalah bagian penutup drama yang mengakhiri pementasan. Epilog berisi tentang kesimpulan yang dapat diambil dari pementasan yang disajikan. 

5. Dialog 

Dialog merupakan percakapan antar tokoh dalam drama. Dialog berperan sebagai pengarah lakon drama.

6. Monolog 

Monolog yaitu percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri. 

            Pada pementasan drama tentunya terdapat teknik dan prosedur pementasan yang dilakukan. Menurut Suroso (2015: 83) terdapat dua tahap yang dilakukan yaitu tahap pertama, menyusun director copy semacam catatan sutradara yang digunakan sebagai pedoman penyutradaraan. Tahap kedua, melaksanakan latihan, merencanakan kapan gladi kotor, gladi bersih, dan pentas sesungguhnya. Teknik dan prosedur pementasan berkaitan dengan konsep, mekanisme, dan prosedur untuk melakukan pementasan. Teknik lebih dominan kepada struktur organisasi drama, mekanisme kerja, dan penjadwalan latihan. Prosedur mencakup tentang pilihan naskah, melatih aktor, menyiapkan latihan, gladi kotor, gladi bersih, hingga pertunjukan akan dilaksanakan. Pementasan drama sangat berpengaruh dengan teknik dan prosedur yang dilakukan sehingga akan menghasilkan pementasan yang sesuai dengan harapan.

 

 



Daftar Pustaka 

 

Diana, Novi. 2020. “Pementasan Drama Melalui Pendekatan Contextual Teaching and Learning”. Jurnal

            ITQAN. Vol. 11, No. 2, pp. 99-109. 

Kartikasari, Apri dan Edy Suprapto. 2018. Kajian Kesusastraan (Sebuah Pengantar). Jawa Timur: CV. AE

            MEDIA GRAFIKA. 

Mubarock, Wildan F., dkk. 2019. Drama dalam Drama. Bogor: Langit Arbitter. 

Nuryanto, Tato. 2014. Mari Bermain Drama Kebahagian Sejati (Panduan Praktis untuk menjadi Aktor dan

            Aktris). Cirebon: Syariah Nurjati Press. 

Suroso. 2015. Drama: Teori dan Praktik Pementasan. Yogyakarta: ELMATERA. 

Solihati, Nani, dkk. 2016. Teori Sastra Pengantar Kesusastraan Indonesia. Jakarta: UHAMKA PRESS.

Sumaryanto. 2009. Memahami Karya Sastra Bentuk Drama. Jakarta Barat: CV. PAMULARSIH. 

Wiyanto, Asul. 2002. Terampil Bermain Drama. Jakarta: Grasindo.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: "Usai"

"Potret Kekosongan Hidup Dalam Rumah Kaliurang"

Keindahan Puncak Sosok