Naskah Drama: "Robohnya Surau Kami"

 

sumber gambar: google



Lakon 

ROBOHNYA SURAU KAMI 

Karya Jasmin Putri Devanti 

Diadaptasi dari cerpen karya Ali Akbar Navis 

 

BABAK I 

ADEGAN I 

MALAM HARI, SUASANA DI SEKITAR SURAU MENJADI HEBOH AKIBAT BERITA KEMATIAN YANG TAK DISANGKA-SANGKA. PARA WARGA TIDAK PERCAYA DENGAN HAL ITU. DINA YANG SEDANG MELEWATI SEKITARAN SURAU MELIHAT GEROMBOLAN WARGA YANG TENGAH BERBINCANG. SEGERA IA DATANGI GEROMBOLAN ITU. 

DINA 

Ada apa ini? 

WARGA 1 

Kakek meninggal. 

DINA (Terkejut) 

Hah?! Yang benar? 

WARGA 2 

Benar sekali, Din. Ditemukan bunuh diri. Menggorok lehernya sendiri pakai pisau. 

DINA 

Ya Allah, ngeri benar. Tak kusangka Kakek bunuh diri seperti itu. 

WARGA 2 

Kami pun masih terheran-heran. 

DINA 

Kapan meninggalnya? 

WARGA 3 

Baru saja sehabis maghrib. 

DINA 

Sayang sekali amalan yang dikerjakan di dunia selama ini.

WARGA 2 

Doakan sajalah. 

DINA (Berjalan dengan tergesa-gesa) 

Aku pulang dulu, akan memberitahu suamiku. 

DINA BERGEGAS PULANG MENEMUI SUAMINYA. 

DINA 

Ada berita buruk. 

ABDI 

Berita apa? 

DINA 

Orang meninggal. 

ABDI 

Siapa? 

DINA 

Kakek. 

ABDI (Sangat kaget) 

Hah?! Kakek? 

DINA 

Ya. Tadi sehabis maghrib Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggorok lehernya dengan pisau. 

ABDI 

Astaga! Baru tadi siang aku bertemu dengan Kakek. 

DINA (Heran) 

Padahal Kakek terkenal sangat rajin beribadah. Tapi, kenapa mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu?

ABDI 

Itu ulah Ajo Sidi yang mencari gara-gara. 

DINA 

Ajo Sidi si pembual itu? 

ABDI 

Ya, benar. 

DINA 

Tak habis-habisnya ia berulah lagi. 

ABDI 

Firasatku tadi sudah tidak enak. Karna Ajo Sidi bercerita kepada Kakek. Tak habis pikir aku kalau omong kosong Ajo Sidi itu berefek buruk pada Kakek. 

DINA 

Sudah, datanglah ke rumah Ajo Sidi. Mintalah ia untuk bertanggung jawab pada omong kosongnya itu. 

 

ADEGAN II 

ABDI BERGEGAS MENEMUI AJO SIDI DI RUMAHNYA. SUARA KETUKAN PINTU TERDENGAR DENGAN KERAS HINGGA ISTRI AJO SIDI MEMBUKAKAN PINTU. 

ABDI 

Mana suamimu? 

ISTRI AJO SIDI 

Sedang siap-siap hendak pergi. 

ABDI 

Kemana? 

ISTRI AJO SIDI 

Pergi bekerja lagi. Masuk shift malam. Ada apa? 

ABDI 

Panggilkan dia. Aku ingin bertemu. 

AJO SIDI MENEMUI ABDI. 

AJO SIDI 

Ada apa malam-malam begini? 

ABDI 

Tanggung jawab dengan omong kosongmu itu. 

AJO SIDI 

Tanggung jawab apa? 

ABDI 

Kau tak mendengar berita yang sedang heboh di kampung ini? 

AJO SIDI (Dengan wajah datar) 

Tak.

ABDI 

Kakek meninggal. Itu karna omong kosongmu yang telah meracuni pikiran Kakek. 

AJO SIDI 

Lalu? 

ABDI (Kesal) 

Lalu? Kau bilang, lalu? Tak bersalah kah kau? 

AJO SIDI 

Aku berbicara apa adanya. Kakek saja yang terlalu berlebihan mendengarkan ceritaku. 

ABDI (Geram dan menggeleng-gelengkan kepala) 

Keterlaluan! Kau seorang pembual! Hilang akal kau? 

AJO SIDI 

Tak ada yang salah dengan perkataanku. Jika Kakek percaya akan hal itu, ya sudah nasibnya begitu. 

ABDI 

Sungguh tak ada akal kau. Omong kosongmu itu menghasut banyak orang. Sadarkah perbuatanmu itu merugikan? 

AJO SIDI (Dengan muka tidak bersalah) 

Aku rasa perbuatanku tidak merugikan. Dan aku juga hanya bercerita tentang kehidupan nyata. 

ABDI 

Tak sedikitpun kau menyesali perbuatanmu itu? 

AJO SIDI 

Apa yang perlu disesali? Aku hanya berbicara fakta. 

ABDI (Dengan muka marah) 

Fakta? Omong kosong! 

AJO SIDI (Sambil berjalan keluar) 

Sudahlah, aku hendak pergi bekerja. Belikan kain kafan untuk Kakek sebanyak tujuh lapis. 

ABDI (Terheran-heran) 

Sungguh keterlaluan kau, Jo. Bisa-bisanya dalam situasi seperti ini kau memilih bekerja. 

 

ADEGAN III 

FLASHBACK KEJADIAN SEBELUMNYA. DI PELATARAN KIRI SURAU, TERLIHAT SEORANG GARIN YANG TELAH BERTAHUN-TAHUN SETIA MENJAGA SURAU ITU. SEBAGAI GARIN, KAKEK TIDAK MENDAPATKAN APA-APA. HIDUP ATAS HASIL MENGASAH PISAU YANG TIDAK MESTI MENDAPATKAN IMBALAN BERUPA UANG. PAGI HARI, SEBELUM BEKERJA AJO SIDI MAMPIR KE SURAU MENEMUI KAKEK UNTUK MENGASAH PISAU. 

AJO SIDI 

Kek. Sibuk sekali keliatannya. 

KAKEK 

Loh, Ajo? Tumben sekali kau kesini. Ada apa? 

AJO SIDI (Tersenyum, sambil memberikan pisau yang dibawanya)  

Ya seperti biasa, Kek. Kebetulan mampir ingin mengasah pisau ini. 

KAKEK (Menunjuk ke arah tumpukan pisau)  

Tapi, tak bisa jadi sekarang. Tumpukan pisau sudah banyak. 

AJO SIDI 

Tidak apa-apa. Malam nanti akan kuambil. Bisa kan? 

KAKEK 

Ya, bisa. Kau tak bekerja? 

AJO SIDI (Mengangguk, sambil membuka bungkus rokok) 

Bekerja. Masih nanti, ingin santai dulu. 

KAKEK 

Masuk kerja jam berapa, Jo? 

AJO SIDI 

Jam 10. 

KAKEK 

Kau jarang terlihat sekarang. Sibuk? 

AJO SIDI 

Aku kini sibuk bekerja karna itu tak sempat mampir. Kebutuhan lagi banyak-banyaknya untuk anak dan istriku. 

AJO SIDI DUDUK DI SAMPING KAKEK. 

AJO SIDI 

Bagaimana kabarmu, Kek? 

KAKEK (Sambil mengasah pisau)  

Alhamdulillah masih seperti ini, Jo. Mengasah pisau dan menjaga surau. 

AJO SIDI 

Tak bosan, Kek? Dari dulu hingga sekarang begitu melulu.

KAKEK 

Mau gimana lagi sudah takdirnya. 

AJO SIDI 

Ya… ya… Kau memang tak pernah berubah, Kek. Jawabanmu selalu begitu. Bagaimana keluarga?

KAKEK (Tersenyum) 

Sehat semua. 

AJO SIDI 

Syukur deh. Saat ini harga kebutuhan makin meningkat, Kek. 

KAKEK 

Ya, benar. Semua sudah semakin mahal. Tapi, tak apalah. Percaya saja pada Tuhan, rezeki sudah diatur.

AJO SIDI 

Pekerjaan Kakek kan hanya sebagai penjaga surau dan pengasah pisau. Kebutuhan istri dan anak Kakek itu apa iya tercukupi? 

KAKEK 

Tercukupi. Meragukan diriku kau? 

AJO SIDI 

Bukan begitu. Penghasilan Kakek saja tidak seberapa dari mengasah pisau itu. 

KAKEK 

Hidup harus disyukuri, Jo. Kehidupanku telah kuserahkan kepada Allah sepenuhnya. Percaya bahwa Allah maha pengasih dan penyayang. Terlebih lagi bagi hambanya yang selalu taat beribadah dan tawakal. 

AJO SIDI 

Ah, sama saja. 

KAKEK 

Sama saja gimana? 

AJO SIDI (Mengejek) 

Ya, sama saja Kakek hanya mementingkan diri sendiri. 

KAKEK (Tersinggung)  

Mementingkan diri sendiri gimana? 

AJO SIDI 

Apa Kakek tidak takut kehidupan di akhirat nanti? 

KAKEK 

Tentu tidak. Kenapa mesti takut? Diriku selalu taat pada Tuhan. 

AJO SIDI 

Justru itu. Harus hati-hati jika terlalu taat pada Tuhan hingga melupakan sekitarnya. 

KAKEK 

Omong kosong! Memangnya kau sudah tau kehidupan di akhirat? 

AJO SIDI 

Belum mati ya tentu tidak taulah, Kek. Dengar-dengar sih, kehidupan di akhirat agak seram. 

KAKEK 

Seram, bagi yang tidak taat pada Tuhannya. 

AJO SIDI (Menggeleng-gelengkan kepalanya) 

Eitss… Tidak hanya itu saja, yang taat pun juga akan berakhir seram di akhirat nanti. 

KAKEK 

Mengarang saja kamu, Jo. Kehidupan akhirat yang seram itu ya neraka namanya. Neraka tempat orang yang tidak taat pada Tuhannya. 

AJO SIDI 

Yaa… terserah saja jika tidak percaya. 

KAKEK (Tertawa) 

Musyrik jika percaya padamu, Jo. 

AJO SIDI 

Kek, yang namanya hidup tidak ada yang tahu akhirnya akan seperti apa. Seperti kawanku yang mati suri itu. 

KAKEK (Kaget) 

Mati suri? Kawanmu siapa? 

AJO SIDI 

Si Saleh. 

KAKEK 

Tak pernah dengar aku. 

AJO SIDI 

Dia tidak tinggal di kampung kita. 

KAKEK 

Oh, pantas saja terasa asing di telingaku.

AJO SIDI 

Ketika mati suri, katanya ia seperti berada di kehidupan akhirat, Kek. 

KAKEK 

Lantas, bagaimana kehidupan akhirat itu? 

AJO SIDI 

Begini… Ku perkenalkan nama lengkap kawanku dulu. Namanya tidak hanya Saleh. Tapi, Haji Saleh.

KAKEK 

Mentang-mentang sudah naik haji gitu? 

AJO SIDI 

Ya, begitulah. Kini sudah dikenal dengan sebutan Haji Saleh yang taat ibadah pada Tuhan. Semasa hidupnya mirip dengan Kakek. Selalu taat pada Tuhan, tidak pernah meninggalkan shalat, dan selalu percaya pada Tuhan. 

KAKEK (Muka penasaran) 

Itu sudah menjadi kewajiban. Bagaimana cerita kehidupan di akhiratnya? 

AJO SIDI 

Nah, ceritanya ia seperti berada di halaman yang sangat luas. Di depannya itu sudah ada deretan manusia yang mengantri untuk gilirannya dipanggil. 

KAKEK 

Dipanggil Tuhan? 

AJO SIDI 

Benar. Dipanggil Tuhan untuk di masukkan ke neraka dan surga. Haji Saleh kan semasa hidupnya sudah taat pada Tuhan, maka ia tidak takut lagi dengan yang namanya neraka. Ia yakin bahwa dirinya akan dimasukkan ke surga. 

KAKEK 

Tidak usah diragukan lagi, tentu masuk surga si Saleh itu. 

AJO SIDI 

Jangan yakin dulu, Kek. 

KAKEK 

Hmm… lanjutkan lagi. 

AJO SIDI 

Kemudian, karna sudah terlalu yakin dengan dirinya. Ia pun lantas melambaikan tangannya kepada orang-orang yang masuk ke surga seperti mengisyaratkan bahwa nanti akan bertemu di surga. Sebaliknya, ia menyunggingkan sebuah senyum ejekan ketika melihat orang-orang yang masuk neraka.

KAKEK 

Sombong sekali si Saleh. 

AJO SIDI 

Nah, kali ini gilirannya dipanggil. Haji Saleh diberi satu pertanyaan mengenai pekerjaannya sewaktu hidup di dunia. 

KAKEK 

Hanya pekerjaan saja yang ditanyai? 

AJO SIDI 

Iya. 

KAKEK 

Istimewakah pekerjaannya sampai Tuhan hanya memberikan satu pertanyaan itu saja? 

AJO SIDI 

Istimewa sekali, Kek. 

KAKEK (Penasaran) 

Apa pekerjaannya? 

AJO SIDI 

Tidak ada pekerjaan bagi Haji Saleh selain hanya menyembah Tuhan. Saat dalam keadaan sakitpun, Haji Saleh selalu menyebut nama Tuhan dan berdoa untuk mendapatkan kemurahan hati Tuhan. Pokoknya pekerjaan Haji Saleh itu hanya taat pada Tuhan saja, Kek. 

KAKEK 

Pantas saja, Tuhan hanya ingin tahu tentang itu. Lalu ia dimasukan ke surga kan? 

AJO SIDI 

Nah, setelah menjawab satu pertanyaan, atas kehendak Tuhan akhirnya Haji Saleh di masukkan ke dalam neraka. 

KAKEK (Kaget) 

Loh?! Tidak mungkin di masukkan neraka. Pekerjaan yang dilakukannya di dunia itu sudah sangatlah baik. Tapi, kenapa di masukkan ke neraka? Apa yang salah? 

AJO SIDI 

Namanya juga kehendak Tuhan, Kek. Mau berkutik apalagi? 

KAKEK (Heran) 

Tapi, mesti ada alasannya. 

AJO SIDI 

Sudah pasti ada. Haji Saleh tidak terima jika dimasukkan ke neraka padahal semasa hidupnya selalu taat beribadah. Haji Saleh merasa apakah salah bahwa dirinya menyembah Tuhan? Kemu… 

KAKEK (Menyela) 

Ya, tidak salah. Menyembah Tuhan adalah sebuah kewajiban. 

AJO SIDI (Mengangguk) 

Kemudian Tuhan memberikan alasannya. 

KAKEK MENGHENTIKAN KEGIATAN MENGASAH PISAUNYA. MEMPERHATIKAN DENGAN SERIUS CERITA DARI AJO SIDI. 

AJO SIDI 

Jadi, Haji Saleh itu selalu taat beribadah pada Tuhan sebab takut masuk neraka. Tapi, justru itu yang menjadi boomerang bagi Haji Saleh. Karena selalu taat beribadah sampai melupakan kehidupan kaumnya sendiri. Melupakan kehidupan anak dan istri. Melupakan segalanya yang telah diberi Tuhan yaitu negeri yang kaya raya berupa tanah yang sangat subur sehingga tanamanpun tumbuh tanpa di tanam namun Haji Saleh malah malas-malasan tidak memanfaatkan dengan baik. Hanya mementingkan ibadahnya saja sebab beribadah tidak mengeluarkan tenaga dan tidak banting tulang. Itulah kesalahan Haji Saleh yang terlalu mementingkan dirinya sendiri. Egois. Padahal di dunia ia berkaum, bersaudara semua, tapi tidak mempedulikan mereka sedikit pun. 

KAKEK 

Apa Tuhan tidak mengampuninya? Tetap dimasukkan neraka? 

AJO SIDI 

Tidak. Tuhan tetap pada keputusannya itu. Begitulah nasib setiap orang, Kek. Tidak ada yang tahu.

KAKEK 

Tapi, kawanmu kan hanya mati suri. Tidak benar-benar jadi mati. 

AJO SIDI 

Walaupun tidak jadi mati, tetap saja itu sebagai sebuah teguran baginya. 

KAKEK 

Setelah mati suri, keadaan kawanmu bagaimana? 

AJO SIDI 

Dia berubah. Menyeimbangkan kembali kehidupannya. Kini ia menjadi sadar bahwa perbuatannya itu adalah perbuatan yang terkutuk. Untungnya ia hanya mati suri. Coba kalau benar-benar mati? Tak bisa ia merubah perbuatannya itu. 

HENING 

AJO SIDI (Beberapa menit kemudian) 

Kenapa diam, Kek? 

KAKEK (Sedikit kaget) 

Hah? Tak apa. 

AJO SIDI 

Yasudah, aku pergi bekerja dulu. Malam nanti akan kuambil pisaunya. 

KAKEK 

Ya. 

 

ADEGAN IV 

SIANG HARI, ABDI MENGHAMPIRI KAKEK UNTUK MEMBERIKAN UANG SEPERTI BIASANYA. KAKEK DUDUK DENGAN LUTUTNYA MENEGAK MENOPANG TANGAN DAN DAGUNYA. PANDANGANNYA SAYU, SEPERTI ADA SESUATU YANG MENGAMUK PIKIRANNYA. 

ABDI 

Kek, ini uang sebagai upah kemarin telah mengasah pisauku. 

KAKEK (Merenung) 

Hmm… 

ABDI 

Kenapa, Kek? Biasanya senang aku beri uang. Ini malah muram begitu. 

KAKEK (Sambil kembali mengasah pisau)  

Tak apa. 

ABDI 

Pisau siapa itu, Kek? 

KAKEK 

Ajo Sidi. 

ABDI (Kaget) 

Hah? Siapa, Kek? 

KAKEK 

Ajo Sidi. 

ABDI 

Ajo Sidi? 

KAKEK (Geram) 

Ya. Kurang ajar dia! Ingin ku bunuh rasanya! 

ABDI 

Kenapa, Kek? Kakek marah padanya? 

KAKEK (Kesal) 

Jelaslah ingin marah. Tapi, diriku sudah tua. Sia-sia iman dan ibadahku selama ini hanya karena marah kepadanya. Tuhan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Sudah lama aku menyerahkan segalanya hanya kepada Tuhan. 

ABDI 

Apa yang dikatakannya, Kek? 

KAKEK TERDIAM. RASA INGIN TAHU ABDI MENGGEBU-GEBU. APA YANG DIBUAT AJO SIDI HINGGA KAKEK SEMARAH INI. ABDI TERUS BERTANYA KEPADA KAKEK. 

ABDI 

Kek, bagaimana katanya? 

KAKEK HANYA TERDIAM LAGI. BERAT HATINYA UNTUK BERCERITA. 

ABDI (Sekali lagi bertanya) 

Ceritakan apa yang terjadi, Kek? 

KAKEK 

Kau kenal aku kan? Kau tahu perbuatan apa yang sejak dulu selalu aku lakukan, bukan? Apa terkutukkah perbuatanku ini? 

ABDI HANYA DIAM MENDENGAR PERKATAAN KAKEK TANPA MENYAHUT PERTANYAAN ITU. 

KAKEK 

Aku tak memikirkan hidupku sendiri. Istri dan anakku selalu kucukupi. Tak ingin jadi orang kaya. Bahkan semua kehidupanku telah kuserahkan kepada Allah SWT. Tak pernah menyusahkan orang lain. Seranggapun tak tega kubunuh. Aku selalu mengabdi kepada Tuhan. Selalu yakin bahwa Tuhan maha pengasih dan penyayang pada umatnya yang tawakal. Setiap hari aku bangun pagi, bersuci, dan memukul beduk untuk membangunkan orang supaya bersujud kepada-Nya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Salahkah pekerjaanku ini? 

ABDI 

Ajo Sidi mengatakan begitu, Kek? 

KAKEK 

Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi, begitulah kira-kira. 

ABDI (Geram) 

Dasar Ajo Sidi! Lalu, apa yang diceritakannya, Kek? 

KAKEK MULAI BERCERITA SAMBIL TETAP MENGASAH PISAU. 

KAKEK 

Ajo Sidi bercerita tentang kawannya yang mati suri bernama Haji Saleh. 

ABDI 

Haji Saleh? Aku tidak pernah mendengar nama itu. 

KAKEK 

Katanya bukan orang kampung sini. 

ABDI 

Oh. Ada apa dengan mati surinya? 

KAKEK 

Ketika mati suri, Haji Saleh itu seperti berada di kehidupan akhirat. 

ABDI (Heran dan tertawa) 

Hah? Hahaha. Ada-ada aja cerita Ajo Sidi itu. 

KAKEK (Meyakinkan) 

Tidak mengada-ngada memang benar cerita nyata kawan Ajo Sidi. 

ABDI 

Bagaimana ceritanya? 

KAKEK 

Intinya begini … semasa hidupnya, Haji Saleh selalu taat kepada Tuhan. Selalu menyembah Tuhan dan berdoa. Namun, setelah kematiannya dimasukkan ke dalam neraka padahal dalam kehidupannya telah taat kepada Tuhan. 

ABDI 

Sepertinya aku pernah dengar cerita ini, Kek. Kakek yakin itu benar cerita nyata kawan si Ajo Sidi?

KAKEK 

Ya, memang benar. 

ABDI 

Oh, yasudahlah. Lalu kenapa dimasukkan neraka? 

KAKEK 

Karna Haji Saleh orang yang egois. 

ABDI (Heran) 

Egois? 

KAKEK 

Hidup Haji Saleh hanya dipenuhi dengan beribadah kepada Tuhan saja sebab takut masuk neraka. Haji Saleh terlalu mementingkan dirinya sendiri. Melupakan segala kehidupan kaumnya sendiri. Melupakan kehidupan istri dan anaknya. Melupakan pemberian Tuhan berupa negeri yang kaya raya. Ia hanya sibuk beribadah saja tanpa memikirkan kehidupan yang lainnya. Kesalahan Haji Saleh, terlalu egois. Padahal di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tetapi tidak mempedulikan mereka sedikitpun. 

ABDI 

Kenapa Kakek sangat marah dengan cerita dari Ajo Sidi? 

KAKEK 

Aku merasa, cerita itu mirip dengan kehidupanku. Cerita itu juga berdasarkan kisah dari kawan Ajo Sidi.

ABDI 

Nasib Haji Saleh setelah mati suri bagaimana? 

KAKEK 

Kini Haji Saleh telah berubah. Menyeimbangkan kembali kehidupan di dunia dan akhiratnya. Aku berpikir, bagaimana jika aku yang mati? Tentulah aku telah masuk neraka. Haji Saleh kan hanya mati suri, ia bisa kembali memperbaiki kehidupannya. Tapi, jika aku? 

ABDI 

Tidak, Kek. Hidup dan mati semuanya atas kehendak Tuhan. Segala perbuatan baik dan buruk itu atas kehendak Tuhan juga. Jangan percaya dengan perkataan Ajo Sidi. Itu hanya sebuah bualan semata saja. Tidak mungkin berdasarkan kisah dari kawan Ajo Sidi. Ingat Kek, Ajo Sidi adalah seorang pembual. Jangan dipercaya segala omong kosongnya. 

KAKEK 

Aku memang tak sepenuhnya percaya dengan cerita itu, namun aku tetap tidak bisa menyangkal bahwa kehidupan di dunia dan akhirat memang harus seimbang. 

ABDI (Menenangkan suasana) 

Kek, perbuatan yang Kakek lakukan tidak ada yang sia-sia. Taat beribadah merupakan suatu kewajiban. Lihat Kakek sekarang, bekerja mengasah pisau demi mencukupi kebutuhan istri dan anak. Tidak ada yang salah. Semua sudah sama-sama tercukupi dan kehidupan Kakek sudah seimbang. 

KAKEK HANYA TERDIAM. TAK MENGGUBRIS PERKATAAN ABDI. 

ABDI (Setelah beberapa menit)  

Jangan dipikirkan perkataan Ajo Sidi. Tetap menjalankan kehidupan dengan sebaik mungkin, Kek. Cerita tadi anggap saja hanya sebuah dongeng. Aku pulang dulu, Kek. Istriku sudah menunggu dari tadi di rumah

KAKEK (Dengan suara datar) 

Ya, hati-hati. 

BEGITULAH KIRANYA KEJADIAN SEBELUMNYA YANG MEMBUAT KAKEK MEMILIH MENGAKHIRI HIDUPNYA. SEMENJAK PERISTIWA KEMATIAN KAKEK, TIDAK ADA LAGI YANG MENJAGA SURAU ITU HINGGA MENJADI TIDAK TERAWAT BAHKAN AKAN ROBOH.


Komentar

  1. Wihhh baca yang versi naskah drama punya kamu gak kalah keren sama versi cerpennya

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi: "Usai"

"Potret Kekosongan Hidup Dalam Rumah Kaliurang"

Keindahan Puncak Sosok