"Potret Kekosongan Hidup Dalam Rumah Kaliurang"
![]() |
| sumber gambar: google |
Potret Kekosongan Hidup Dalam Rumah Kaliurang
Hidup tidaklah selalu berupa kebahagiaan dan kesedihan, namun hidup dapat juga berupa kekosongan. Hal yang lazim terjadi disetiap zamannya, kekosongan ini menjadi sebuah hal yang sering terjadi. Nyatanya memang benar, kekosongan dapat terjadi disebuah tempat. Tempat dimana makhluk tak kasat mata terlihat oleh segala penjuru dan menampakkan dengan sendirinya. Kosong yang benar-benar kosong, tidak berpenghuni, dan ditinggalkan layaknya tak berarti. Seperti halnya Rumah Kaliurang ini, yang berlokasi di Jalan Kaliurang, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak jauh dari lereng Gunung Merapi. Bangunan itu telah lama kosong tidak berpenghuni sehingga menjadi tidak terawat, tetapi justru dihuni oleh makhluk dari dunia lain yang mengisi kekosongan rumah tersebut. Rumah bergaya arsitektur eropa ini yang seharusnya menampakkan keindahannya justru menjadi sebuah rumah yang beraura mistis.
Rumah Kaliurang dibangun pada tahun 1930 dengan bangunan berwarna putih. Pada awalnya Rumah Kaliurang didirikan di zaman Belanda sebagai villa tempat peristirahatan. Pada zaman Belanda dinamakan sebagai Grenzeberg yang berasal dari bahasa Belanda memiliki arti sebagai perbatasan dengan gunung. Dahulu sempat digunakan sebagai Zending Club Huis atau tempat perkumpulan misionaris Katolik Belanda. Setelah Belanda meninggalkan Indonesia, rumah ini kemudian dirawat oleh pihak Keraton Yogyakarta serta digunakan sebagai balai pertemuan. Kemudian tahun 1994 saat terjadi letusan Gunung Merapi, bangunan tersebut mengalami kerusakan akibat dari letusan itu. Pada tahun 1995, Rumah Kaliurang dibeli oleh Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST) yang diberi nama sebagai Pesanggrahan Sarjanawiyata. Namun, villa putih tersebut lebih dikenal dengan nama Rumah Kaliurang karena letaknya yang masih disekitaran Kaliurang.
Akibat
letusan Gunung Merapi yang cukup hebat ini memberikan
dampak besar bagi aspek kehidupan
yang menyebabkan rumah-rumah
mengalami kerusakan salah satunya
Rumah Kaliurang ini yang terkena
dampak dari adanya letusan Gunung
Merapi. Sejak saat itu, Rumah Kaliurang
tidak digunakan lagi bahkan tidak dilakukan renovasi
pada bangunannya. Bangunan
yang megah dan mewah kini sudah menjadi
terbengkalai tidak terawat
bahkan menjadi sunyi. Cat bangunannya pun sudah banyak yang mengelupas, atap bangunan tersebut
juga sudah rusak, serta halaman
depan rumah yang sudah dipenuhi oleh rumput-rumput panjang dan
lumut. Tidak ada lagi keindahan dalam rumah tersebut.
Karena tidak berpenghuni dan sudah
lama kosong sehingga rumah tersebut
menjadi angker. Banyak penampakan-penampakan yang muncul di siang hari dan malam hari. Namun sebelum itu, penampakan
tersebut sudah ada sejak Rumah Kaliurang masih
aktif digunakan dan dihuni
oleh orang-orang. Terkadang terdengar suara aneh seperti
suara orang mandi, suara hentakan
kaki, bahkan penampakan langsung noni belanda.
Rumah
Kaliurang terdiri dari dua lantai,
pada lantai satu terdapat
dua buah kamar dan ruang tamu. Pada
lantai dua terdapat satu buah kamar
yang mengundang aura mistis. Terdapat beberapa ranjang
bertingkat yang terbuat dari bahan
kayu pada lantai satu. Lantai dua
memiliki ruangan luas dengan sebuah
balkon yang berada di luar ruangan
dan terdapat satu kamar tidur dan
satu kamar mandi dengan keadaan
lembab yang dipenuhi dengan lumut sehingga banyak mengundang makhluk
lain yang senang untuk tinggal di Rumah Kaliurang itu. Ruangan tersebut menjadi
salah satu ruangan
yang paling menyeramkan karena keadaannya yang begitu memprihatinkan dan juga tidak layak pakai serta rusak. Biasanya penampakan noni belanda mulai terlihat dari dalam ruangan lantai dua. Pada bangunannya pun mulai dirambati oleh
tanaman menjalar yang menandakan bahwa rumah tersebut
terkesan menyeramkan.
Untuk memasuki Rumah Kaliurang haruslah berhati-hati, karena mengingat keadaan rumah yang sudah hampir roboh dan struktur bangunan yang tidak layak huni lagi. Hal tersebut menjadikan Rumah Kaliurang ini tidak dipakai dan ditinggalkan begitu saja tanpa adanya perawatan. Rumah Kaliurang terkenal dengan tingkat keangkerannya yang tinggi. Banyak pengunjung yang melihat penampakan-penampakan di dalam rumah tersebut terutama pada lantai dua. Tidak sedikit makhluk gaib yang menampakan dirinya di siang hari. Padahal keadaan masih di siang hari, namun beberapa pengunjung sudah disambut dengan para penghuni makhluk gaib tersebut. Konon katanya juru kunci Rumah Kaliurang, pada waktu siang hari sedang membersihkan kawasan rumah itu dengan tiba-tiba muncul asap putih yang tidak tahu dari mana asalnya. Hal itu menandakan bahwa makhluk dunia lain tidak menyukai aktivitas dari manusia yang berada di bangunan Rumah Kaliurang. Tentunya tidak memandang siang maupun malam hari tetap saja penampakan tersebut akan menampakan dirinya kapanpun itu.
Keadaan yang begitu menyeramkan ini tetap saja membuat orang-orang tertarik untuk mendatangi Rumah Kaliurang. Beberapa orang melakukan uji nyali di Rumah Kaliurang pada malam hari untuk menguji keberaniannya dan juga menguji kebenaran dari adanya penampakan-penampakan di Rumah Kaliurang. Selain itu, Rumah Kaliurang ini juga dijadikan objek wisata untuk sekedar berfoto karena tempatnya yang memang instagramable untuk digunakan swafoto dengan berlatarkan bangunan megah yang suram, kosong dan menyeramkan. Uniknya Rumah Kaliurang ini walaupun terkenal dengan angker dan mistis, namun masih banyak orang yang berkunjung ke Rumah Kaliurang. Selain menarik perhatian, Rumah Kaliurang ini juga memiliki pesona dimata orang lain dengan kemegahannya yang menyeramkan namun tetap menarik untuk dilihat.
Keunikan lainnya yaitu digunakan
sebagai lokasi syuting sebuah film yang berjudul
“Rumah Kaliurang”. Film Rumah Kaliurang mengambil inspirasi
dari sebuah urban legend yaitu rumah tua terbengkalai sebagai
rumah angker di daerah Kaliurang, Yogyakarta yang sesuai dengan judul film tersebut bernama Rumah Kaliurang. Film Rumah Kaliurang
disutradarai oleh Dwi Sasono sebagai film
panjang pertama dari Dwi Sasono yang diproduksi sekitar tahun 2018.
Dwi Sasono memilih lokasi Rumah Kaliurang karena sangat tertarik dengan Rumah Kaliurang ini yang dilihat dari segi
rumahnya sudah terkesan horor sehingga
cocok digunakan sebagai
lokasi syuting film Rumah Kaliurang. Penyajian film Rumah
Kaliurang ini menjadi terkesan
sangat horror karena latar lokasi yang digunakan
sudah sangat mengundang aura negatif juga terkenal dengan keangkerannya.
Dengan demikian, Rumah Kaliurang menjadi rumah yang memiliki daya tarik serta menjadi ikon di Kaliurang yang banyak dikunjungi karena kisah-kisah mistis yang beredar diluaran sana sehingga mampu memikat para pengunjung untuk berdatangan. Rumah Kaliurang merupakan rumah yang sudah terbengkalai puluhan tahun akibat erupsi dari Gunung Merapi yang menyebabkan rumah tersebut mengalami kerusakan, namun tidak adanya rencana perbaikan. Sehingga menjadikannya sebuah rumah yang kental dengan aura mistisnya dan bangunan rumah yang terkesan angker. Walaupun terkenal dengan keangkerannya tetap saja Rumah Kaliurang memiliki keunikan tersendiri yang memikat para pengunjung untuk sekedar berswafoto. Rumah memang tidak selamanya dihuni oleh para manusia, tetapi rumah juga dapat dihuni oleh makhluk dari dunia lain yang disebabkan karena terbengkalainya rumah tersebut.

Wahh, saya pernah datang ke sini jugaaa
BalasHapusTakut banget
BalasHapusIhhhh skeri betul
BalasHapus